Monday, June 27, 2016

Cookies

BY ana IN , 1 comment



I bet you have ever watch Sesame Street in television. It's funny and entertaining for a kid, no? In this program, there are a lot of funny yet adorable character like the pig, the frog, and the others. I never paid attention to a special character when I watch this as a kid. But when I grew up and taking my higher education in university, I just realized one thing: The Cookie Monster is quite cute and cool.

With its blue fur and his awkward movements, he looks really adorable. Not to mention his job as a (doll) entertainer and his hobbies for life: eating cookies. He live by eating cookies, earn money by eating them in front of camera, and known  with a nickname that represent what he likes the most. How could life go wrong for him? 

That time, I disappointed with my life. Why is there are no jobs as a cookie eater in the world that I live in? T_T

ODOP-inthedayIlostcounts

Saturday, June 25, 2016

Pain

BY ana IN , No comments



Love hurts/But sometimes its a good hurt/Cause it feel like I'm alive../

Those are a snippet view from Incubus's song lyric, Love Hurt. At a glance, those lines feels a little bit masochistic, no? How could you say that a pain causes by love would be feel so good? Well, it might seems hard to understand, but it's true. Pain are good for you.

Life is beautiful. Life is a bless, especially if you are born in a good family. As a child, world is a big playground full of adventurous journey to explored. But we are forced to get old, and life doesn't seem so easy anymore. We have to fight, compete, and likely to fall many times to stand on our feet today. Life is such a pain.

But it's a good pain, anyway. You are ready to fight harder, because of the failures you've experienced. You are ready to learn more, because of your desire for not to fall behind. And thus, you are ready to love more because of the heartbreak, the desire to preserve things you love the most, to keep them for not feeling the pain you've ever tasted.



ODOP-Day 3

Thursday, June 23, 2016

Socializing

BY ana IN , No comments


We live in the era that  socializing over smartphone are more common than open a conversation with a stranger in front of us. You can say that the world is quieter from people's speaking sound, though louder and noisier in written status and comments on social media. So, from a large number of friends we have on our social media, does this make people transform to a social butterflies? When you can say anything, anytime, to anyone (anonymously), do you think you are socializing enough?

Sadly, no. One real indicator to measure if a person is in a good relationship with someone is by feeling the silence between them. Yes, it's not by measure the qualities of the conversation, but it's the opposite. Maybe you can discuss, listen, or even argue with your partner, but it doesn't make you good at socializing. The real thing is begin when you two are quiet, playing with silence and enjoy the moment without hesitation to do anything more or less than that. This is what makes you a good socializer.

The stranger beside you can be asking some weird question seconds later, or even just stares you with a smile. But if you can stand the silence, you are ok. If you don't feel burdened by the quiet moment, not checking you phone or thinking some cheesy chit-chat to break the silence, you are a good socializer, who can connect with people loudly or silently.


ODOP-Day 2

Wednesday, June 22, 2016

Favorite Books

BY ana IN , No comments



When talking about books, most of the books that I love so much was novel with psychological twist inside and the historical one. Take a look at "Harimau-harimau" by Mochtar Lubis, "Ziarah" by Iwan Simatupang, and "The Outsider" by Albert Camus. At first sight, these novels sometimes was seen as crazy works, but when you read it, you can feel the wisdom thoughts of life, death, and the meaning of human itself. You can laugh at yourself when you are agreed from writer's dark humor, yet you can be in a love-hate relationship with the writer's statement about life.

From the historical section, I am fond of Tetralogi Buru by P.A.T and works of Ken Follet. Writing a history can be very tricky, with traps like choosing the right angles and sides which can make the result quite tendentious (and trashy). But those two writers are clever; P.A.T. writing about marginal groups and Follet are taking both sides angles so they can avoid of being so tendentious. Besides their capability of making such a good and meaningful storyline, those skill are one thing that makes their novels great.


ODOP-Day 1

Tuesday, June 21, 2016

Sehari Satu Paragraf

BY ana IN No comments

Di masa ketika sosial media menjadi raja, mudah sekali kita mengetahui tren yang sedang berlangsung di sebuah kelompok sekalipun kita bukan bagian dari mereka. Sebut saja ODOJ. Akronim dari One Day One Juz ini merupakan sebuah gerakan dan ajakan untuk para muslim untuk membaca Al-quran dengan target tertentu. Satu Hari Satu Juz. Buat kebanyakan orang biasa (termasuk saya), baca Al-quran satu hari satu juz merupakan hal yang berat. Ada segudang alasan yang melatarbelakanginya, antara lain.. Ups, tidak, saya bukan ingin curhat tentang ODOJ. Doakan saja supaya saya mampu baca satu hari satu juz, meningkat dari bacaan sekarang yang meski setiap hari, jumlah dan pemahaman saya belum seberapa. One Day One Paragraph Seakan menjadi epigon tren muslim yang booming beberapa tahun yang lalu, salah seorang rekan di tempat kerja saya mencetuskan ide ketika kami sedang mengobrol. Ia merasa, setelah hampir setengah tahun les bahasa inggris di sebuah tempat ternama yang bayarannya juga lumayan, tidak ada perubahan yang berarti pada penambahan kosakatanya. Maklum, teman saya ini sebentar lagi menginjak usia 40, jadi sudah sulit menggunakan metode menghapal seperti anak-anak sekolah. Maka, senanglah ia ketika sang guru les mencetuskan ide untuk belajar kosakata dengan menulis. Teorinya, dengan sering meneggunakannya, sebuah kata akan lebih mudah diingat. Apalagi, menulis satu paragraf satu hari tidak terlalu membutuhkan banyak waktu seperti bila harus menghapal. Murid senang, tempat les pun senang karena tak harus kehilangan bayaran satu murid yang hamper keluar karena putus asa. Konsisten Tentu tantangan terberat yang harus dilalui para pembelajar adalah masalah konsistensi. Seperti halnya para penggiat One Day One Juz yang harus konsisten meluangkan waktu untuk membaca 10 lembar Al-Quran demi memenuhi target bacaan, menulis juga butuh kesinambungan niat. Bahkan jika tak ada ide, menulis harus dilakukan supaya tidak kehilangan pace. Karena saya tergoda untuk juga terjun dalam praktek pembelajaran bahasa inggris tanpa harusbayar uang les ini, saya juga harus konsisten untuk tak kembali ke jurang kemalasan dan kedunguan yang menular. Ada yang jual segentong konsistensi?

Wednesday, December 30, 2015

Waspadai 5 Ciri Investasi yang Menggunakan Skema Ponzi

BY ana No comments



Dengan semakin banyaknya orang yang sadar akan pentingnya investasi, makin banyak pula bentuk dan pilihan yang terlihat menggiurkan untuk melipatgandakan uang Anda. Banyak dari perusahaan ini yang memang baru saja berdiri karena memang bergerak di bidang-bidang baru seperti teknologi, tetapi banyak pula yang hanya memanfaatkan kurangnya informasi untuk memindahkan uang investor ke kantong pemilik invetasi bodong. Salam satu bentuk investasi yang patut diwaspadai adalah yang menggunakan skema Ponzi.

Skema Ponzi sendiri mendapatkan namanya dari seorang lelaki Italia bernama M Carlos Ponzi. Ia menemukan sebuah gagasan ‘investasi’ yang menjanjikan keuntungan 100% dalam waktu singkat. Kenyataannya, ‘investasi’ yang dijanjikannya hanyalah penipuan belaka. Meskipun kebohongan skema ini sudah terbongkar, masih banyak orang yang menggunakan cara ini untuk mendapatkan uang secara cepat. Berikut adalah empat ciri investasi yang menggunakan skema Ponzi.

1.       Menjajanikan keuntungan yang besar dalam waktu singkat

Jujur saja, tak pernah ada seorang pun investor yang menolak saat ditawari keuntungan yang berlipat ganda bukan? Baik investor baru maupun yang kawakan pasti mempunyai tujuan yang sama, lebih kaya. Iming-iming inilah yang menjadi senjata utama para fraud investor untuk menjaring ‘mangsa’nya. Dengan sedikit bumbu dan kelihaian menyusun kata-kata, iming-iming ini akan mengaburkan sikap jeli Anda untuk terlebih dahulu meneliti perusahaan investasi tersebut. SIkap berhati-hati inilah yang harus dibangun saat diprospek oleh marketing investasi.

Pada dasarnya, jarang sekali ada investasi yang bisa menjanjikan keuntungan yang besar dalam waktu singkat. Hal ini tentu tergantung dengan kondisi pasar saham dan perekonomian dunia yang sering sekali tidak stabil dan rentan terhadap perubahan. Investor yang tangguh adalah orang yang mampu bertahan di atas semua itu, serta tetap bersabar dengan terus mengambil langkah-langkah strategis ketika nilai investasinya tengah menurun. Jadi, jangan mudah tergiur dengan janji-janji manis yang bisa jadi justru merugikan di masa depan!

2.       Tidak Ada Informasi yang Jelas Mengenai Produk Investasi

Pada umumnya, Investasi yang menggunakan skema Ponzi hampir tidak memiliki produk untuk dijual karena sumber keuntungan mereka memang tidak tergantung pada hal itu. Kalaupun ada, produknya biasanya terkesan ‘asal jadi’ dengan harga selangit karena memang tidak dibuat untuk disebarluaskan ke masyarakat.  

Telitilah mengenai produk yang menjadi tumpuan sebuah perusahaan sebelum Anda menginvestasikan uang di dalamnya. Periksa kualitas, manfaat, dan hal-hal lain terkait strategi pemasarannya yang membuat produk tersebut memiliki kekuatan di tengah pesaingnya. Waspadai bila Anda menemukan kejanggalan dalam produk perusahaan investasi tersebut, dan agar lebih yakin, lakukan tes produk agar mendapat perbandingan antara penjelasan marketing investasi dan pengamatan langsung.




3.       Perusahaan investasi tidak terdaftar secara resmi di Bapepam

Dengan bentuk penipuan yang sudah jelas terkuak, sebuah perusahaan yang menggunakan sema Ponzi akan sangat kesulitan untuk mendaftarkan dirinya ke Bapapem (Badan Pengawas Pasar Modal). Tak adanya pembukuan keuangan yang jelas dan sah, serta deskripsi produk yang buruk menjadi faktor yang jelas akan menjegal perusahaan seperti ini mendapatkan lisensi dari Bapepam. Bila sudah jelas tak terdaftar, silakan langsung batalkan rencana Anda berinvestasi di perusahaan tersebut. Bila tetap nekat, tentu risiko mendulang keuntungan dan menuai kegagalan akan semakin besar.


4.       Member Get Member dengan Dana Awal yang Tinggi

Sejalan dengan tidak jelasnya deskripsi dan pemasaran produk, investasi berskema Ponzi akan menarik uang pendaftaran yang cukup banyak dari investor barunya. Mereka pun menyemangati para investor baru untuk mengajak sebanyak mungkin orang untuk bergabung dan ikut berinvestasi di perusahaan tersebut, dengan iming-iming fee/bonus investasi akan semakin besar bila bisa mengajak banyak orang untuk ikut berinvestasi dan membayar uang pendaftaran.

Inilah modus operandi invetasi berskema Ponzi. Uang member yang baru bergabung akan digunakan untuk membayar ‘hasil investasi’ member lama dan fee member yang merekutnya. Tak ada uang yang berfungsi sebagai modal dan digunakan untuk mengembangkan bisnis. Yang ada hanya mengembangkan jaringan dan mengumpulan uang untuk membayar ‘hasil investasi’ member lama dan ujungnya pasti akan selalu merugikan member baru.

5.       Menjerat Investor Baru dengan berbagai Acara Mewah

Para pelaku investasi Ponzi yang sudah mengetahui bagaimana bisnis ini bekerja biasanya hanya memiliki dua pilihan, berhenti atau melanjutkannya dengan sungguh-sungguh. Saat sudah mengetahui penipuan di balik cara kerja sistem ini, seorang investor yang terjebak harus merelakan uang yang sudah dibayarkannya untuk menghentikan penipuan pada orang lain demi mendapakan sedikit fee. Sebaliknya, ia pun juga bisa melanjutkannya dengan kembali menipu banyak orang agar menjadi investor, membayar uang pendaftaran, agar perekrut mendapat banyak fee.

Tentu saja hal ini tidaklah mudah. Maka, agar orang-orang percaya dan mengikuti ajakannya, seorang perekrut akan menyebarkan foto-foto ‘keberhasilan’ dan ‘kekayaannya’ berkat investasi tersebut dan mengadakan acara-acara mewah yang mengesankan berlimpahnya uang yang dimiliki oleh perusahaan dan investornya. Melihat serangan bertubi-tubi seperti itu, kewaspadaan seseorang untuk meneliti sebuah investasi bisa saja mengendur, lalu dengan sukarela membayar uang pendaftaran yang cukup besar demi mendapatkan imbalan yang berkali-lipat lebihnya.    


Demikian beberapa hal yang bisa Anda gunakan untuk mengidentifikasi sebuah investasi berskema Ponzi. Untuk menghindari jeratannya, intinya adalah jangan mudah tergiur dan teruslah menjaga kewaspadaan dan ketelitian sebelum memutuskan beinvestasi di satu tempat.  Dan bila menemukan investasi Ponzi, laporkanlah ke pihak berwenang, seperti OJK agar tak jatuh lebih banyak korban dari penipuan semacam ini.  



Tulisan di atas adalah artikel pesanan yang tidak jadi dipakai, 
jadi aku posting di sini daripada cuma mengendap di komputerku. 
Enjoy. 

Wednesday, April 30, 2014

bahasa

BY ana 1 comment

bahasa adalah sejarah yang penuh dengan cerita sesat, makna yang berkelok dan ambigu, rambu-rambu palsu.


-goenawan mohamad, tuhan dan hal-hal yang tak selesai, hlm. 91

Sunday, April 20, 2014

Dasar-dasar Jurnalistik

BY ana 5 comments

Pada hari Kamis, 10 April 2014, Lemhannas RI mengadakan pelatihan jurnalistik bagi para anggotanya. Saya yang bukan anggota (PNS) lembaga itu tentu saja tak enak untuk masuk dan ikut-ikutan menimba ilmu dari para pengajar yang berasal dari Sekolah Jurnalistik Antara tersebut. Namun, karena yang mengkoordinir acara adalah pak bos saya, yah, sebagai staff Humas, saya nyelonong masuk ajah . :D

Pada sesi pertama, materi pelatihan adalah mengenai dasar-dasar jurnalistik. Pengajarnya bernama Panca Hari Prabowo.Kalo ada yang mau nomor kontak dan emailnya bisa googling atau tanya saya. :)

Berikut ini materi Dasar-dasar Jurnalistik yang hanya saya kopas dari paper yang dibagikan.

Dasar-dasar Jurnalistik

Jurnalistik selalu beriringan dengan masanya. Wartawan selalu ada di setiap zaman, dan wilayah, serta selalu ada peristiwa yang dapat tereka, untuk kerja jurnalistik.

Menurut Kris Budiman, jurnalistik adalah kegiatan penyiapan, penulisan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik meliputi kegiatan dari pelitputan sampai kepada penyebaran kepada masyarakat, yang dalam pengertian sempit adalah publikasi cetak.

Peran Jurnalis

Anda pernah berpikir kenapa tokoh Spiderman, Superman, dan Tintin adalah jurnalis? Menurut Pak Panca, dua tokoh pertama yang merupakan super hero berprofesi sebagai jurnalis karena jam kerja jurnalis yang fleksibel, sehingga memungkinkan mereka untuk membasmi kejahatan di sela-sela bekerja. Begitu pula dengan Tintin yang setengah detektif. Akses informasi yang lebih luas juga memudahkan Tintin dalam menyelesaikan kasus-kasus yang mendatangainya.

Berdasarkan hal tersebut, wartawan merupakan jembatan/media yang menghubungkan antara fakta dan khalayak. Sebagai jembatan, tugasnya adalah mengantarkan pesan yang diperoleh dari sekumpulan fakta ke hadapan pembaca, tidak dukurangi, dan tidak dimanipulasi. Untuk mendapatkan fakta yang akurat, wartawan harus ke lapangan dan mencari sumber fakta yang palingt utama. Ini menjadi dasar utama atau pijakan utama dalam teknik mencari berita.

Seorang wartawan, harus mengetahui fakta atau kejadain yang layak menjadi berita dan mana yang tetap dibiarkan menjadi kejadian semata. Wartawan juga harus melakukan pengujian terhadap fakta yang didapat dan akan dijadikan bahan berita.

Beberapa Hal yang Membuat Peristiwa atau Fakta dapat dijadikan berita:

1. segar                                6. terkenal
2. bencana                           7.  bahaya
3. besar                                8. pengetahuan baru
4. dekat                                9. human interest
5. langka 

Jenis Berita

Ada dua jenis berita, yakni soft news dan hard news. Hard news adalah berita mengenai peristiwa yang terjadi saat itu dan penting diketahui publik. Kategori berita ini sangat dibatasi oleh waktu dan aktualitas. Soft news adalah berita yang berhubungan dengan kisah manusiawi. Kategori berita ini tidak ditemukan waktu dan aktualitas, melainkan menyajkan informasi yang menyentuh emosi dan perasaan para khalayak. 

Ciri-ciri Jurnalisme

Skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kemungkinan agar tidak mudah ditipu. Seorang wartawan bertugas mencari kebenaran. Dalam beberapa kasus, kebenaran itu didapat dari sikap ingin tahu, tidak percaya, dan mempertanyakan sesuatu. Surat kabar tidak pernah akan menjadi besar hanya dengan memberitakan selebaran-selebaran yang dibagikan oleh penguasa, pengusaha, dan tokoh politik. Wartawan harus terjun ke lapangan untuk menggali dan mengungkapkan kebenaran (Joseph Pulitzer).

Bertindak adalah cara kerja wartawan. Wartawan tidak duduk di atas kursi empuk dan di belakang meja, melainkan berada di tempat adanya berita. Get Off Your Ass and Knock on the Door menjadi prinsip kerja wartawan.

Berubah/Mengubah. Jurnalisme mendorong segala macam perubahan besar di dunia. Sistem kerja pers sendiri juga mengalami perubahan, yakni dimulai dari teks, audio visual, hingga multimedia.

Seni dan Profesi. Dunia kewartawanan bukanlah hanya soal tulis menulis. Seorang penulis handal belum tentu handal sebagai wartawan. Jurnalisme seperti halnya seni, Dia melibatkan niat, minat, dan memerlukan kegigihan di lapangan.

Peran Pers (menurut Bernard J. Cohen)

-informer: menjadi mata dan telinga publik
-interpreter: memberi penafsiran terhadap suatu peristiwa
-representative of public: wakil dari publik
-watchdog: peran jaga
-pembuat kebijaksanaan dan adokasi

Watak Wartawan

menjalani profesi sebagai jalan hidup
memiliki tujuan mulia
tidak arogan
bekerja akurat
bekerja cepat jujur terhadap kebenaran

Ruang Lingkup Jurnalistik

Cetak (koran, majalah)
Broadcast/siar (TV, radio)
Online

9 Elemen Jurnalisme (menurut Bill Kovach)

1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
2. Loyalitas pertama adalah kepada warga
3. Intisari jurnalisme adalah sebuah disiplin verifikasi
4.Wartawan harus tetap independen dari pihak yang mereka liput
5. Wartawan harus bertindak sebaai pemantau independen terhadap kekuasaan
6. Jurnalisme harus menghadirkan sebauh forum untuk kritik dan kometar publik
7. Wartawan harus membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan
8. Wartawan harus menjaga berita dalam proporsi dan menjadikannya komprehensif
9. Wartawan punya kewajiban terhadap nurani

Tentang Jurnalisme dan Bisnis
Gabriel Garcia Marquez, seorang jurnalis yang menerima Nobel Sastra pada tahun 1982 dari Kolombia mengatakan bahwa jurnalis merupakan pekerjaan paling baik di dunia. Praktek profesi jurnalistik membutuhkan latar belakang budaya yang kuat yang diberikan oleh lingkungan kerjanya. Membaca merupakan persyaratan kerja tambahan.
Bisa dikatakan bahwa tidak ada media yang benar-benar independen dalam memandang sebuah permasalahan. Independensi media sendiri bisa dilihat dari sudut pandang kebebasan untuk menentukan sikap dan keberpihakan. Tidak ada yang salah dengan keberpihakan sepanjang keberpihakan itu bermuara pada perbaikan dan pemenuhan hak-hak warga. Namun bila keberpihakan media massa dapat dibeli dengan uang, inilah titik tolah kehancuran perannya sebagai agen sosial dan agen perubahan dan pilar keempat demokrasi.

Hak Koreksi dan Hak Jawab
Pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan pers dapat menggunakan Hak Koreksi dan Hak Jawab dan media pers pasti melayani hal itu karena sesuai UU No. 40/1999 tentang pers Pasal 5 (2) dan (3) menyatakan bahwa pers wajib melayani Hak Jawab dan Hak Koreksi.

Hak Koreksi dapat dilakukan oleh umum, kelompok, perorangan, lembaga, dan lainnya yang merasa pemberitaan pers tersebut tidak benar, kurang tepat, tendensius dan lainnya yang merugikan atau mengaburkan dari hal sebenarnya dengan cara membuat tulisan/statement yang sifatnya meluruskan. Pembuat Hak Koreksi bisa orang yang dirugikan atau orang yang mengetahui duduk persoalan dari pemberitaan pers tersebut lalu membut tulisan yang sifatnya meluruskan.

Sedangkan Hak Jawab hanya dapat dilakukan oleh orang yang merasa dirugikan oleh suatu pemberitaan pers, tidak terwakili, kecuali menggunakan surat kuasa atau kuasa hukum untuk mewakilinya emnggunakan Hak Jawab tersebut. PIhak lain di luar itu tidak akan dilayani oleh media pers.

Wartawan merupakan salah satu pekerjaan yang mulia, tetapi bisa terperosok menjadi provokator, manipulator, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Idealisme herus menjadi dasar dari pekerjaan sebagai wartawan

"Lebih baik diasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan" 


(Soe Hok Gie, 17 Desember 1942-16 Desember 1969)




Wednesday, July 3, 2013

cinta

BY ana No comments

keluarga yang harmonis adalah kisah cinta yang paling romantis.

mungkin.

#anakkost

BY ana No comments

Pengaturan ventilasi yang berbeda di kosan ini, membuat kamar gelap gulita ketika siang padahl kamar mandinya terang benderang

Friday, March 22, 2013

Kunjungan Perpustakaan Yayasan Pustaka Kelana

BY ana No comments



Pada tanggal 2 Maret 2013, kelas Sastra Anak tahun ajaran 2012/2013 yang diasuh Ibu Riris dan Ibu Ratna mengadakan kuliah lapangan ke perpustakaan yang menyediakan buku anak. Perpustakaan yang dikunjungi adalah milik Yayasan Pustaka Kelana. Yayasan Pustaka Kelana terletak di Jakarta Timur, tepatnya di Jl. Kelapa no. 2 Rawamangun. Bangunannya berupa rumah yang berada persis di tengah pemukiman warga sehingga mudah dijangkau oleh anak-anak di sekitar.
Kegiatan membaca masih merupakan kegiatan positif yang belum cukup dibudayakan di masyarakat Indonesia, khususnya oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Pada masyarakat kelas ini, buku bukan merupakan kebutuhan utama, mereka masih memprioritaskan kebutuhan sandang dan pangan. Umumnya, dengan ketiadaan buku sebagai sarana pembelajaran, televisi menjadi sahabat utama dan objek yang ditiru oleh sang anak. Orang tua yang sibuk mencari nafkah kerap kali meninggalkan anak hanya sengan televisi dengan tujuan utama agar anak tidak rewel. Kebanyakan orang tua tidak terlalu peduli kandungan moral apa saja yang disuguhkan pada program-program di televisi, baik positif atau negatif yang kemudian ditiru anak dan menjadi sikap dan kepribadiannya.
Buku adalah jendela dunia, inilah yang diyakini oleh para pendiri Yayasan Pustaka Kelana. Ibu Sitti Nasti Reksodiputro, salah satu pendiri yayasan ini yang juga merupakan dosen Universitas Indonesia yang telah pensiun tahun 1992, mengatakan bahwa tanpa membaca anak-anak yang dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu tidak akan mengalami kemajuan. Dengan membaca, anak akan mengetahui bahwa ada banyak kesempatan di luar sana, kehidupan yang sama sekali berbeda, kehidupan yang lebih baik keadaannya dari yang ia jalani sekarang sehingga ia terus terpacu untuk berinovasi dan berprestasi.
Pada tahun 1995, Sitti Nasti Reksodipurwo, Riries K Toha Sarumpaet, dan beberapa rekan mereka yang lain mendirikan yayasan ini berdasarkan pemikiran tersebut. Yayasan ini berdiri dengan sama sekali tidak memikirkan profit materi, yang diakui bahwa dalam hal materi mereka selalu merugi untuk membiayai operasional yayasan ini, tetapi mereka yakin akan adanya keuntungan yang lebih besar dari materi, yakni masa depan anak yang menjadi lebih baik. Yayasan Pustaka Kelana mendapatkan buku-bukunya dari sumbangan penerbit, perseorangan, dan  kelompok masyarakat baik dari dalam maupun luar negeri. Tidak heran jika dalam koleksi perpustakaan ini ditemukan buku yang berbahasa (dan diterbitkan oleh) Inggris, Jepang atau Swedia. Yayasan ini juga mendapat bantuan operasional mobil melalui program kerjasama dengan perusahaan dalam dan luar negeri.
Yayasan Pustaka Kelana yang terletak di tengah pemukiman warga ini tidak hanya mempunyai koleksi buku anak saja, mereka pun menyediakan bacaan untuk para orangtua, guru, serta remaja. Koleksi buku anak umumnya berupa buku-buku cerita, novel, dan komik,buku pelajaran tidak termasuk. Untuk guru dan orangtua, disediakan ensiklopedi, buku psikologi anak, panduanm mengajar, dan bacaan ringan seperti novel dan majalah. Di ruangan terpisah, latai kedua markas yayasan ini, terdapat koleksi untuk remaja dan dewasa yang berupa fiksi, non-fiksi, dan majalah. Untuk bahan bacaan anak, Pustaka Kelana tidak serta merta meloloskan semua buku anak, namun ada tahap penyeleksian akan konten isi untuk mengatahui kualitas bacaan.
Saat ini, Yayasan Pustaka Kelana telah menjalankan beberapa program. Pertama, meminjamkan sekotak buku ke sekolah. Satu kotak buku yang umumnya berisi 100 buku dipinjamkan ke sekolah-sekolah dasar sebagai tambahan koleksi perpustakaan sekolah selama satu bulan. Setelah sebulan, kotak buku ini akan diambil kembali dan diganti dengan kotak baru yang koleksinya berbeda dari yang sebelumnya. Kedua, tas buku. Sebuah tas buku yang berisi 20 buku bisa dipinjamkan kepada yang ingin, baik perseorangan maupun kelompok untuk dibaca selama sebulan dengan biaya 100 ribu rupiah. Program ketiga adalah Program Cinta Membaca. Program ini boleh diikuti oleh siapa saja, baik siswa SD hingga SMA. Program ini dilakukan dua kali dalam setahun. Caranya, dengan mendaftar ke yayasan ini, lalu akan diberikan sebuah kartu yang berisi hal-hal yang harus dibaca dan dilakukan selama tiga bulan kedepan. Bila semua tugas di kertas telah dipenuhi, maka peserta program ini bisa ikut dalam kunjungan lapangan yang diadakan Yayasan Pustaka Kelana.
Para pengunjung perpustakaan Yayasan Pustaka Kelana tidak dikenakan biaya bila ingin membaca di tempat. Namun, apabila pengunjung ingin meminjam, diharuskan mendaftar menjadi anggota dahulu dan membayar iuran untuk dua bulan. Besaran iurannya tidak banyak, yakni Rp5000/anak dan Rp10000 untuk orang dewasa. Saat ini, Pustaka Kelana masih sangat membutuhkan partisi aktif dari para relawan yang ingin membantu kelangsungan operasi yayasan. Bentuk bantuan dapat berupa materi ataupun tenaga. Dalam bentuk tenaga, relawan dapat berperan sebagai pendongeng, pustakawan, admin web, maupun tenaga operasional lainnya yang tidak dituntut untuk datang secara rutin.
 Seusai penjelasan formal, para mahasiswa Sastra Anak lantas menjelajah markas Yayasan Pustaka Kelana ini. Beberapa mahasiswa asyik membaca koleksi buku-buku anak, adapula yang menbaca buku remaja, dan tidak sedikit yang membaur dan bermain bersama anak-anak yang mengunjungi perpustakaan ini. Selain itu, terlihat terlihat mahasiswa-mahasiswa yang menawarkan bantuan untuk menjadi tenaga relawan operasional, menjadi bagian dalam kegiatan kecil yang bisa mengubah nasib anak-anak menjadi lebih cerah.


ana
lagi-lagi bikin tugas imajiner

Thursday, January 3, 2013

Materi Pelatihan Calon Penyiar GRI 1: Talk Show Radio

BY ana 1 comment

Pengertian

Talk show radio bisa diterjemahkan pertunjukkan berbicara di radio. Karena sifatnya pertunjukkan maka ada unsur hiburan (entertaining). Namun radio talk show sering juga diartikan sebagai Radio Talk, yakni pembicaraan di radio. Dalam konteks ini unsur hiburan bukanlah menjadi menu yang utama.

Peran Talkshow Radio
Membuka kesempatan untuk mendengarkan kata-kata sang narasumber sendiri, nada bicara, dan karakter pembawaan narsum tersebut.

  • Apakah si  narsum sedang tersenyum saat bicara atau suaranya mulai sedikit ragu-ragu dan gelisah?
  • Bagi para narasumber, lebih sedikit kemungkinan kata-kata mereka akan disalahartikan, karena mereka meyampaikan sendiri ceritanya langsung kepada pendengar. 
Tujuan 
a. Memastikan fakta
b. Memperoleh 'pernyataan', biasanya muncul pernyataan-pernyataan baru dari narasumber 
c. Menggali titik pandang
d. Mendapatkan opini yang representatif

Caranya dengan bertanya kepada narasumber, untuk:
- Meminta informasi
- Mengklarifikasi suatu hal
- Mengkonfrontasi

Syarat talkshow yang baik
  • Menjawab permasalahan sehingga tujuan tercapai
  • efektif dan efisien
MENJADI HOST YANG BAIK

1. Peran Pewawancara
  • pewawancara bertindak sebagai katalisator. Ia ada untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dan seharusnya diajukan oleh para pendengar.
  • sifat-sifat pribadi yang diperlukan dari seorang pewawancara radio adalah rasa ingin tahu dan percaya diri yang akan memungkinkannya bersikap gigih saat bertanya kepada narsum
  • membangun hubungan yang baik dengan narasumber. "Saya sangat suka dengan baju yang anda pakai." Perkataan inji segera menciptakan suasana yang nyaman dan santai untuk wawancara. 
2. Syarat pewawancara yang baik
a. Mempunyai wawasan yang luas
b. Dapat berbicara dengan baik (tidak gugup)
c. Memenuhi persyaratan dasar jurnalistik (seimbang terhadap opini dan dapat berbahasa dengan baik dan benar)
d. Berkepribadian yang kuat
e. Well inform dan well educated (berpengetahuan dan berpendidikan yang baik)
f. menguasai bahasa tubuh dengan baik
g. hindari masturbasi siaran (kepasan sendiri semata)

3. Suara pewawancara
- Bernada menyenangkan. Membawa rasa persahabatan.
- Alami. Menunjukkan kepribadian pembicara.
- Dinamis. Bertenaga dan punya kekuatan, meski tidak keras.
- Ekspresif, mengungkapkan berbagai arti dan rasa. Tidak monoton. 
- Mudah didengar. Cukup keras dam jelas. 

MEMPERSIAPKAN TALKSHOW

Sebelum Talkshow


1. Menentukan fokus
Anda tidak boleh mengudarakan wawancara yang melantur/tidak terfokus. Jika fokus atau sudut pandang talkshow tidak jelas, maka lakukanlah hal-hal berikut:
  • Apakah topik bahasannya atau identitas narasumber yang akan menarik perhatian pendengar?
  • Apakah talkshow tersebut menyajikan sebuah tema yang akan diminati secara khusus atau menyangkut kepentingan umum?
  • Apakah akan membahas sebuah topik khusus atau membahas seseorang yang sedang hangat diberitakan?
  • Apakah talkshow ini untuk mengungkap informasi baru, menjelaskan alasan-alasan konflik ataukah merangkum situasi yang sedang berjalan?
  • Berapa lama waktu siar yang layak untuk talkshow ini mengingat durasi acara radio yang terbatas?
2. Menentukan topik
Pilihlah topik yang sesuai dengan keingintahuan pendengar. Perhatikan halaman pertama surat kabar, hal yang baru, human interest, petualangan , konflik, misteri, kisah dramatis dan tragis, serta hal yang bermanfaat bagi khalayak. 

3. Merencakan talkshow
  • Berikan narasumber kesempatan untuk meluruskan kesalahan-kesalahan penting dalam catatan anda
  • Pastikan narasumber sudah memahami apa yang anda perlukan
  • Pastikan semua orang yang terlibat sudah jelas tentang kapan dan dimana suatu peristiwa terjadi (konteks)
Perhatikan tiga unsur utama
Persiapan, Pengaturan, dan Komunikasi

Persiapan
- Bagaimana profil pendengar radio?
- Apa judul talkshow ini?
- Mengapa narsum tersebut yang dipilih?
- Mengapa mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu?
- Apa yang perlu diketahui tentang narasumber?
- Aapakah harus memiliki daftar narsum cadangan?

Pengaturan
- Apakah talkshow akan lebih efektif bila dilakukan di ruang terbuka?
- Apakah perlu memesan peralatan khusus?
- Apa saja yang harus dilakukan untuk memastikan diperolehnya hasil suara terbaik?
- Apakah harus memiliki fokus bahasan alternatif?

Komunikasi
- Riset materi, agar pertanyaan mengarah
- Menyusun struktur wawancara, skala prioritas pertanyaan
- Merancang 'rute pertanyaan'
- Menyiapkan peralatan
- Menyusun rundown
- Membuat promo

Sebelum On Air
a. Ice breaking dengan narsumber agar tidak gugup dan mencairkan suasana
b. Jelaskan rundown
c. Jelaskan alur

Pada Saat On Air
a. Beritahu narsum saat akan on air
b. On air opening tune
c. Salam dan sampaikan inti masalah yang akan dibahas
d. Perkenalan narsum yang hadir dan sebutkan jabatan sambil mengucapkan salam
e. Memilai dengan pertanyaan yang mudah
f. Lakukan wawancara hingga selesai

Pada Saat Wawancara Berlangsung

1. Hormati dan hargai narasumber tanpa apriori
  • Bila bersebrangan dengan narasumber jangan terlalu ektrem dan tetap etis
  • Gunakan logika dan norma tanpa memenangkan salah satu pihak
  • Pewawancara BUKAN menginterogasi narsum
  • Tetap tenang dan jangan terbawa arus
  • Kritis dan skeptis
  • Boleh berdebat dengan rgumen yang bisa dipertanggung jawabkan, bukan debat kusir
2. Pewawancara sejajar dengan narsum
3. Tidak perlu bergumam pada saat mendengarkan narsum, misalnya: "ya, ya; he'eh"
4. Seringlah mengulang nama dan jabatan narsum
5. Jangan salah menyebut nama dan jabatan narsum

Mengakhiri Talkshow
  1. Wawancara talkshow sudah berakhir, ingatkan narasumber bahwa waktu sudah hampir selesai.
  2. Lemparkan lelucon segar/plesetan, dengan membuat narasumber tertawa kecil, kesan baik akan tercipta, begitu pula saat yang tepat untuk menutup acara.
  3. Jadikan jawaban narsum sebagai penutup, cari jawaban narsum yang menarik untuk dikutip sebelum mengakhiri talkshow.
  4. Ajukan pertanyaan tertutup yang menghendaki jawaban singkat, sebagai penegasan dan penyelesaian. 
  5. Kesimpulan singkat bersama. Namun, tidak perlu memaksakan adanya kesimpulan. Bebaskan pendengar menyimpulkan sendiri talkshow kita dengan pemahaman masing-masing. Jangan paksa pendengar mengikuti jalan pikiran kita
  6. Setelah narsum mengucapkan suatau jawaban yang meyakinkan hatinya, segera kutip sebagian, lalu tutup talkshow.


Inilah kami yang sedang menimba ilmu penyiaran. :)

-Materi pertemuan pertama Pelatihan Penyiar Goodreads Indonesia Angkatan Pertama, 2010-



Thursday, December 20, 2012

KTM UI-ku hilang!

BY ana 1 comment

sebagai seorang yang sangat memanfaatkan berbagai fasilitas kampus, kartu mahasiswa adalah barang wajib yang harus dibawa ke mana-mana. Apalagi untuk fasilitas yang hampir setiap hari saya pake, peminjaman buku di perpustakaan. sebelumnya ga pernah kebayang kalo saya sampe kehilangan kartu mahasiswa dan ga bisa minjem buku, hal itu begitu mengerikan sehingga saya ga berani membayangkannya -halah-.

Oke, jadi pada tanggal 16 November 2012, saya dan teman smp saya makan di sebuah restoran di Pondok Gede Mall. saking asiknya ngobrol dan ngegosip, saya sampe ga sadar bahwa tas yang saya taruh di bangku sebelah saya sudah raib entah kemana. bingung, panik, jelas saya rasakan. apalagi setelah nanya pramuniaga dan katanya ga ada CCTV di resto itu. sedih sih, tapi ya sudah. saya juga yang bodoh.

sebenarnya tak ada barang yang terlalu berharga di tas itu. namun tetep aja ada kartu-kartu identitas, buku perpustakaan, dan sedikit uang. Untungnya, telpon genggam ada di kantong saya, jadi tidak ikut raib.


daftar barang-barang yang hilang:
1. KTM
2. KTP
3. kartu ATM dan buku tabungan
4. buku perpus
5. buku catetan kuliah satu semester
6. tas, payung, dan beberapa pernak2 lain yang kurang penting.

setelelah berminggu-minggu, saya tak juga mengurus hal2 yang hilang itu. buku perpus saya perpanjang terus karena tak kunjung menemukannya di toko-toko buku. sampe akhirnya 3 bulan setelahnya saya baru mengembalikan buku perpustakaan.

untuk kalian yang memang lagi sial kehilangan buku perpus ui, tak usah panik. cari aja buku yang sama untuk menggantikan buku yang hilang itu. langsung bawa ke loket pengembalian perpus. buku itu nanti akan didata oleh petugas perpus. selesai deh.

untuk ktm ui, beda lagi. ini alurnya.
1. ke gedung rektorat lantai 4, terus ke loket keuangan. lapor kehilangan dan isi formulir di sana. nanti dapet surat pengantar untuk bayar penggantian ktm sebesar 100 rb
2. kamu ke BNI dengan membawa surat dan uang 100 ribu untuk bayar penggantian. bukti pembayaran akan kamu terima dari teller
3. bukti pembayaran itu kamu bawa ke Fasilkom gedung C, ruang 3berapaaaa gitu. :P kasih bukti pembayaran dan tunggu ktmnya. ktm baru kamu jadi dalam beberapa menit kok.

Ah ya, sebelumnya kamu harus minta surat keterangan kehilangan dulu dari polisi untuk mengurus penggantian kartu-kartu yang hilang. Kalo belom sempat, bisa ke pos polisi UI. Kantornya di deket pocin, dekat jalur kereta, gedung dengan cat berwarna biru. Surat keterangan hilang ini (biasanya) hanya berlaku 14 hari, jadi begitu kamu dapet surat ini, usahakan urus semua surat-surat/kartu-kartu yang hilang daripada harus minta surat lagi karena surat yang lama udah kadaluarsa.

huah, itu aja deh curcolnya. nanti-nanti lanjut lagi sama postingan yang agak bermanfaat.

Ciao! Arrivederci!

*cie, yang baru belajar bahasa itali sama spanyol* 


Monday, September 10, 2012

triana

BY ana 3 comments

dosen: (mengabsen) Triana *********!
gue: (ngacung)
dosen: u know, in Spanyol we have a city called Triana in the south of the country. Its very important for flamenco.
gue: (nyengir, sambil mencoba membayangkan gue menari flamenco)
ahooii! 

Thursday, May 17, 2012

Dalam Bis

BY ana IN , 3 comments


Dalam Bis

langit di jendela kaca bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sabermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada…
-Sapardi Djoko Damono
           
            Puisi “Dalam Bis” ini diawali oleh baris yang bermakna ganda. Langit atau jendela kah yang bergoyang? Apakah langit yang ada di bumi kita bergoyang? Atau sekedar bayangan langit yang bergoyang? Atau hanya kaca jendela yang bergoyang seirama dengan lenggak-lenggok bis? Pertanyaan ini pun berlanjut pada larik selanjutnya terarah ke mana wajah di kaca jendela. Bila larik pertama menyiratkan bis yang sedang berjalan, maka larik kedua ini menggambarkan penumpangnya. Kekhasan Sapardi muncul pada larik ketiga bait pertama ini, kata dahulu. Waktu merupakan tema besar yang acap kali muncul pada puisi-puisi Sapardi. Berbagai kata yang berhubungan dengan waktu hampir selalu ada dan menegaskan kefanaan. Sang penumpang bis yang wajahnya tercermin dalam kaca jendela mengecil dalam pesona, tertelan oleh waktu yang terus berjalan dan berlalu.
            Bait kedua menggambarkan peristiwa awal dan akhir. Permulaan dari segalanya, hanya sebuah kata, seperti penciptaan dunia oleh Tuhan yang hanya perlu berkehendak untuk menciptakan alam semesta. Baru kemudian perjalanan kehidupan dimulai, dari sebuah tempat ke tempat lain, mencari pengalaman dan berkutat bersama waktu dari kota ke kota. Kehidupan di dunia terasa begitu cepat sehingga tak terasa ia berhenti. Kemudian manusia mati, lenyap dari dunia, tiada.
       Melalui puisi ini, Sapardi menggunakan metafora perjalanan di dalam bis untuk meenggambarkan kehidupan  manusia di bumi. Bermula dari sesuatu yang sederhana, dilanjutkan dengan guncangan dan waktu yang terus berjalan hingga kematian membawa kita kembali kepada ketiadaan. Waktu, kehidupan, manusia, dan religiusitas diracik Sapardi dengan kata-kata yang biasa dipakai menjadi sebuah puisi yang sarat dengan keindahan sastra dan makna yang dalam. Metafora yang dipakai terasa alami, tidak memaksa, dan indah. Karya-karya Sapardi seakan mengajak ppembacanya untuk merenung dan menemukan makna atas kehidupan itu sendiri, kehidupan masing-masing pembaca, dan kehidupan umum yang selalu terkait dengan waktu dan Tuhan. 


tugas kritik sastra
yang tak pernah ada

Thursday, March 29, 2012

Sakit Kepala Instan (Instant Headache)

BY ana IN No comments

Tulisan ini mungkin dianggap tidak penting untuk sebagian orang, tapi akan penting bagi sisanya.


Kehidupan manusia selalu tak luput dari masalah. Ujian kehidupan, cobaan, atau bahkan karma. Masalah ini begitu memusingkan dan memuakkan sehingga anda tak ingin memikirkannya dan ingin mengenyahkannya dari pikiran anda, minimal untuk sementara waktu hingga anda bisa berpikir secara lebih jernih dari sekarang. Langkah-langkah berikut bisa dicoba oleh anda-anda sekalian yang butuh sebuah pengganti (subsitusi) instan atas masalah-masalah yang sedang anda pikirkan sekarang.

Sayangnya, karena penulis merupakan orang yang memiliki cacat mata (miopi) dengan minus yang lumayan, tips ini hanya ditujukan untuk orang-orang yang serupa.

Alat-alat:
1. Kacamata minus yang sesuai dengan mata anda
2. Kacamata minus yang tidak sesuai dengan mata anda (bisa lebih besar/lebih kecil minusnya)

Langkah-langkah:
1. Beraktivitaslah secara biasa dengan kacamata anda yang sesuai, pakai dan gunakan secara terus menerus minimal 3 jam.
2. Lanjutkan aktifitas andan, tetapi kali ini lakukan tanpa kacamata, minimal selama 15 menit.
3. Aktivitas sehari-hari anda masih berlangsung, kan? Kini, gunakanlah kacamata anda yang lebih/kurang kadar minusnya dibandingkan mata anda. Lakukan minimal 2 jam.
4. Nikmati sakit kepala anda.

*resep telah diuji coba oleh penulis beberapa kali. Trust me, it works.


29 Maret 2012
*tips ngaco

Monday, January 31, 2011

Pie Vla Cokelat

BY ana IN No comments

Pie ini adalah salah satu obsesi saya selama liburan ini. Sejak melihat penampakannya di majalah Saji edisi 120, sosoknya selalu terbayang-bayang.. (halah!). Tapi beneran, ini serius.

Daripada membayangkan sesuatu yang ga mungkin karena ga punya loyang pie, akhirnya saya pun mengalihkan pikiran ke kue-kue yang lain. Brownies, kue keju, dan cake keju seakan menjadi pelarian. Saya pun meneror sang ibu untuk membelikan loyang-loyang yang "pantas" untuk setiap kue. Misalnya loyang chiffon cake, loyang brownies yang persegi panjang, dan tentunya cetakan/loyang pie ini.

Setelah beberapa hari meneror ibu, akhirnya hari ini dibelikan juga. Dananya dari sponsor utama, bapak, sehingga saya ga perlu merogoh kocek untuk loyang. *girang bener*

Dan hari ini pula lah saya mewujudkan sosok yang selama ini hanya berada dalam khayalan. Berikut resepnya dari tabloid Saji edisi 120/Th.V/19 Maret:

Pie Vla Cokelat (untuk 20 buah)

Bahan kulit pie:
50 gram margarin
1 kuning telur
100 gram tepung terigu protein sedang
1 sendok makan gula tepung

Bahan isi:
100 ml susu cair
1 sendok makan cokelat bubuk
30 gram gula pasir
2 sendok makan tepung maizena dan dilarutkan dengan 2 sendok makan air (untuk pengental)
50 gram cokelat masak pekat, dipotong-potong
1 kuning telur

Cara membuat:
1. Kulit. Aduk rata bahan kulit. Pipihkan di cetakan pie kecil yang dioles margarin. Tusuk-tusuk.
2. Oven 20 menit dengan suhu 170 derajat Celcius sampai matang.
3. Isi: rebus susu cair, cokelat bubuk, dan gula pasir sambil diaduk hingga mendidih.
4. Tambahkan larutan tepung maizena. Masak sampai kental. Masukkan potongan cokelat masak pekat. Aduk sampai larut. Tambahkan kuning telur. Masak sampai matang.
5. Masukkan dalam kantung plastik segitiga. Semprot dengan spuit di atas kulit. Dinginkan.

Itu resep asli yang patut diikuti seteliti mungkin.

Caraku:
1. Ternyata cetakan pie yang saya beli kebesaran. Cetakan saya adalah cetakan yang berukuran sedang, padahal harusnya yang ukuran kecil. Hasilnya adalah pie yang besar dengan isi sedikit.
2. Lagi-lagi karena oven saya adalah oven tangkring, tidak ada petunjuk waktu sehingga petunjuk derajat panas tidak berguna. Saya mengoven pie ini kira-kira selama 25-3o menit.
3.Saya membuat 2 kali resep untuk kulitnya karena menyesuaikan dengan loyang. Dengan pintarnya, bahan isi pun saya buat 2 kali resep tapi dengan urutan yang sama sekali amburadul. Hasilnya, kuning telur yang seharusnya saya pakai 2 untuk bahan isi, tidak memakai sama sekali.

FYI:
Menusuk-nusuk bahan adonan pie sebelum dimasukkan ke dalam oven gunanya adalah untuk mencegah penggelembungan ketika proses pengovenan. Lubang-lubang tersebut akan langsung mengeluarkan udara yang terperangkap dalam adonan sehingga kulit pie tidak menggelembung.

Untuk kulitnya, hasilnya bagus sekali. Tidak gosong dan renyah serta sangat gampang dilepas dari cetakannya. Mungkin itu karena olesan mentega yang merata pada seluruh permukaan cetakan ketika mencetak adonan. Sedangkan untuk isinya, bagi saya masih kurang memuaskan, mungkin karena kurangnya 2 kuning telur itu tadi. Rasa coklatnya tetap enak, namun teksturnya tidak seperti yang ada si foto tabloid tersebut.. :(

Itu pengalaman saya. Anda?

Sunday, January 30, 2011

Kehilangan

BY ana IN 1 comment

Alkisah ada seorang anak manusia yang sedang bersedih. Bila kau cukup peduli, mungkin kau akan bertanya, “Mengapa?” lalu aku akan menjawab pertanyaanmu dengan serius karena hanya ini cara yang ku tahu untuk menghapus kesedihan anak manusia itu. Aku akan menceritakannya padamu dan aku harap kau bisa hilangkan kesedihan anak manusia itu, namun jika ternyata kau tak bisa, aku harap kau akan menceritakan kisah ini kepada orang lain hingga ada seseorang yang mampu membantunya.

Beruntunglah dirimu karena cerita ini kau dapat dari tangan pertama, artinya kau mendapatkannya langsung dari sumber aslinya. Ya, aku mengenal anak manusia ini. Dia adalah seorang perempuan, walaupun katanya ia sendiri tak yakin. Dia berusia 18 tahun, walau ia sendiri tak yakin. Aku tahu fakta ini dari surat-surat resmi yang berkaitan dengan dirinya, meskipun ia terus menerus membujukku agar tak mudah percaya dengan apa yang ditulis disana karena katanya, “Tak ada yang dapat kau percayai di dunia ini selain dirimu sendiri, wahai dirimu.”

Pada suatu hari aku menemukannya sedang berdiri diam di tengah-tengah tempat terbuka di depan perpustakaan fakultas kami. Wajahnya menghadap ke arah matahari yang sinarnya cukup terik di hari itu. Ia tidak bergerak, hanya menengadah. Tangannya tergantung begitu saja di samping tubuhnya dan kulihat matanya sedikit terpejam untuk menghalau sedikit cahaya yang sangat silau. Orang-orang lalu lalang seakan tak peduli dengan kelakuan aneh manusia yang satu itu. Tak lama setelah aku membiarkannya begitu selama beberapa saat, aku bertanya, “Kau kenapa?” sambil menariknya ke bawah bayang-bayang bagunan perpustakaan.

Kuperhatikan kini wajahnya yang tanpa ekspresi dan sinar matanya yang hampa. Ia tak langsung menjawab pertanyaanku, ia tetap diam sejurus lamanya. Kemudian matanya yang kosong menatap langsung ke mataku, “Aku kehilangan sesuatu, wahai dirimu.”

“Apa?” tanyaku. “Kehilangan apa yang bisa membuatmu bertingkah seperti ini?”
Kau kembali diam, namun kini ditambah senyum sedih di wajahmu.

“Ayo, mari cari lagi bersamaku. Dua orang mencari, lebih baik daripada satu.”

“Kau memang orang yang baik. Tapi sayangnya itu tak membantu sekarang ini. Sesuatu yang kucari bukanlah benda nyata yang bisa ditemukan di dunia fana. Sesuatu ini bukanlah benda yang dapat dirasakan oleh indera biasa. Sesuatu ini bernama imajinasi,” katanya panjang lebar masih dengan wajah hampa yang sarat dengan kesedihan.

Aku pun ikut terdiam seperti dirinya. Imajinasi? Apa imajinasi itu? Bukankah imajinasi merupakan hal yang sama dengan ide, inspirasi ataupun ilham? Ataukah imajinasi adalah kemampuan untuk berkhayal belaka? Aku tak mengerti sama sekali: tentang manusia ini dan imajinasi.

Aku tak mempertanyakan keherananku padanya karena tak ingin dianggap bodoh. Akhirnya di kampus ini, fakultas kami, bersama-sama kami mencari imajinasi: imajinasinya. Beberapa tempat telah kami telusuri:

1. Kelas kami yang bisu. Kami mencari imajinasi di antara bangku-bangku kuliah yang tak teratur posisinya, di dinding-dinding bata berwarna merah yang memisahkan kelas itu dengan kelas sebelah, di bawah meja kayu berat yang disediakan untuk dosen, serta di papan tulis putih yang penuh coretan istilah yang sebagian tak dapat kami mengerti. Kami tak bisa menemukannya
2. Taman-taman fakultas kami. Kami mencari di kekokohan bangku semen yang melingkar, di atas meja bundar yang permukaanya tak rata, bahkan di udara yang katanya penuh dengan sinyal-sinyal yang dapat menghubungkan dunia nyata dengan dunia maya. Dia meraba udara, aku menciumnya: sia-sia.
3. Perpustakaan fakultas kami yang ramai. Kami mencarinya di tengah-tengah celotehan mahasiswa, di percakapan ringan para penjaga, di tengah rak-rak yang berisi buku yang kertasnya menguning, dan di lantai yang berkeramik merah tua. Kami pun membaca beberapa koran (hanya memuat berita buruk dari manusia-manusia haus kekuasaan dan kekayaan), majalah (majalah-majalah disini seakan tak pernah ber-regenerasi), dan buku (ah, ternyata tak banyak orang yang meminjam buku selain novel dan bahan kuliah mereka) tapi tetap tak bisa menemukan dimana imajinasi berada.

Kami lelah. Kini kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di klaster. Rumput hijau dan tanah yang selalu lembab, penglihatan yang leluasa ke segala arah dengan pemandangan yang seimbang antara jembatan teksas yang didominasi warna merah, kilau air danau yang memantulkan sinar matahari, pepohonan hijau di sekeliling kami serta latar belakang gedung fakultas teknik di kejauhan menjadi tempat melepas lelah sekaligus lokasi pencarian terakhir kami.

Sampai saat ini aku masih tak berani bertanya kepada perempuan itu tentang imajinasinya yang hilang. Sejak kapan ia merasa kehilangan? Apakah imajinasinya begitu penting? Apa yang dapat dilakukan oleh imajinasi sehingga kehilangannya bisa membuat perempuan itu begitu hampa dan sedih? Apa imajinasi tak dapat dipindah tangankan? Apakah aku bisa meminjamkan imajinasiku untuk mengusir kehampaanya? Apa aku punya imajinasi?

Kami mendekat ke tepi danau lalu melihat ke dalam keruhnya air, berharap ikan-ikan yang terdapat di dalamnya bisa memberi kami informasi akan imajinasi. Tapi ternyata tidak. Air danau hanya memantulkan wajah kami yang lelah. Wajah perempuan itu yang hampa dan wajahku yang sedih. Gambaran wajah kami terpantul di satu bayangan pada permukaan air.

Dirinya dan diriku.

Tolong kembalikan imajinasiku.



Tugas Penulisan Populer
29 September 2010

Wednesday, January 26, 2011

Ontbijtkoek pertama

BY ana IN , No comments

Maaf, maaf, maaf...

Padahal sambungan posting yang sebelumnya belum ditulis, tapi aku udah nulis posting baru dengan tema yang baru juga. Tapi masih tentang yang sama kok, yaitu cake! (ini ngeles, jelas banget ya?)

Dalam liburan januari ini, sebenarnya ku udah bikin beberapa buah kue yang rutin aku buat minimal 2 buah kue per minggu. Maunya sih laporan ke milis NCC (Natural Cooking Club) segala, tapi apa boleh buat, saya tidak punya kamera untuk mempublikasikan hasil karya (yang masih amburadul). Jadi, saya putuskan untuk tidak laporan sama sekali walaupun hampir semua resep yang saya coba merupakan hasil contekan dari milis tersebut. (kamera hanyalah alasaaaann... :p )

Terus terang hari ini saya tidak ada mood untuk membuat kue. Tapi karena merasa adanya suatu keharusan untuk menyalurkan hobi makan cake, maka dilakukan saja acara baking ini. Selain itu, kegiatan ini didukung oleh sanag bapak dengan cara memberi subsidi bahan baku cake (makasiah paakkk!!!). Akhirnya setelah cari2 resep dari internet maupun majalah Saji (punya kakak), pilihan jatuh kepada kue Ontbijtkoek yang resepnya ada di bonus tabloid Saji edisi ke 100.

Ontbijtkoek artinya adalah sarapan. Konon, kue ini adalah warisan kuliner dari negara Belanda, yang pernah menjelajah negeri Indonesia ini selama 350 tahun. Berikut resepnya:

Ontbijtkoek Keju

Bahan:
5 butir telur * 100 gram gula pasir * 25 gram gula merah disisir halus * 150 gram tepung terigu protein sedang * 2 sdt bumbu spekuk * 75 gram margarin, dilelehkan * 50 gram kenari, dicincang kasar * 50 gram keju cheddar parut untuk taburan

Cara membuat:
1. Kocok telur, gula pasir, dan gula merah hingga mengembang. Tambahkan tepung terigu dan bumbu spekuk sambil diayak dan diaduk rata.
2. Masukkan margarin leleh dan kenari sedikit-sedikit sambil diaduk perlahan.
Tuang di loyang 20cm, tinggi 7cm yang dioles margarin dan dialas kertas roti. Tabur keju cheddar parut.
3. Oven 15 menit dengan suhu 190 derajat Celcius. Turunkan suhunya hingga 180 derajat Celcius. Oven lagi 20 menit hingga matang.

Yang saya praktekan hari ini sangat berbeda dengan resep tersebut:
1. Tanya-tanya ibu, spekuk adalah bubuk kayumanis dan kebetulan di rumah tersedia. Namun, sepertinya udah kadaluarsa karena samar-samar di tulisan best beforenya, masih terlihat angka 08 yang hampir hilang. Kata ibuku, "pakai aja lah. baunya masih sama kok." Uh-oh semoga aman. (berdoa sepanjang inget)
2. Dengan entengnya, sang ibu memasukan pengembang adonan (SP)saat telur dan gula masih dikocok. "Emang di resep ga pake pengembang ya? Udahlah pake aja. Ngabisin."
3. Telur yang digunakan merupakan campuran dari 4 telur ayam dan 1 telur bebek.
4. Ga punya kenari!! jadi dilewatkan saja bagian yang itu.
5. Loyang yang kugunakan merupakan loyang untuk chiffon cake.
6. Ovenku oven tangkring, bukan oven listrik yang punya pengatur suhu. Jadi ga pake atur suhu segala.
7. Waktu pembakaran kira-kira 40-45 menit.

Hasilnya?

Not bad at all. Wangi kayumanisnya enaaakk banget. Teksturnya lembut dan rasanya ga terlalu manis. Satu resep ini sudah habis 75% dalam jangka waktu 3 jam. yang 25 persennya disisihkan untuk bapak dan kakak tertua yang belum pulang.

Itulah cerita Ontbijtkoek yang bukan untuk sarapan.

Sunday, January 9, 2011

brownie brownie brownies

BY ana IN , No comments

libur pergantian semester di tahun kedua kuliahku telah dimulai sejak tanggal 1 Januari 2011 lalu. Durasi libur ini adalah sebulan lebih sedikit.

Pada minggu pertama liburan, aku telah membuat 2 kue yang kukerjakan untuk eksperimen. Hanya eksperimen karena aku tak yakin akan jadi apa hasilnya (tentu saja kue, tapi bukan masalah itu). Sebisa kuingat, terakhir kali aku membuat kue adalah 2 tahun yang lalu. sebuah cheese cake untuk seorang teman. tidak, kue tersebut tidak beracun dan tidak dibuang ke tempat sampah.

hari Rabu (5 Jan 2011) aku membuat brownies ku yang pertama (bukan yang pertama dalam hidup). akhirnya tak begitu bagus walalupun tidak buruk juga. aku ingin mengambil gambar untuk dipamerkan, tapi karena telepon genggamku merupakan warisan jaman monoponik awal, warna di tampilannya saja sudah merupakan suatu anugrah. resep brownies ini kudapat dari milis NCC yang kuikuti melalui email Yahoo-ku. Tanpa basa-asam, berikut resepnya:

resep brownies panggang ekonomis

Bahan:
200gr terigu protein sedang
50gr coklat bubuk
1sdt baking powder
300gr telur (saya memakai 5 butir telur)
300gr gula pasir
1sdt emulsifier
200gr minyak sayur
1/4sdt garam
30ml susu cair (saya pakai susu kental tang dicairkan)

Cara:
Ayak sambil diaduk rata terigu, coklat bubuk, baking powder, sisihkan
Kocok telur, gula, emulsifier sampai mengembang, tambahkan campuran tepung yg sudah diayak.
Panaskan oven. Saya memakai oven tangkring yang berbentuk kotak itu lho.
Tambahkan minyak goreng, garam, susu, aduk rata
Tuang ke loyang. Saya memakai loyang tulban, tapi lebih baik jika anda memakai loyang brownies. Menurut sumber, bila memakai loyang brownies ukuran 30x10, bisa menjadi 3 loyang.
Panggang pada suhu 170 derajat (bila menggunakan oven listrik) selama 30 menit.
Lakukan tes tusuk. bila tidak ada lagi adonan yang menempel, berarti sidah matang. Jangan samapai gosong (overbaked), bila bagian tengah belum matang, kecilkan api dan panggang hingga semua bagian matang.

Hasilnya? enak. Namun teksturnya kurang pas untuk brownies. Dengan tekstur cake yang ringan, lebih tepat disebut bolu. Karena hal ini lah saya memutuskan untuk membuat eksperimen brownies kedua yang dilakukan hari sabtu (8 Januari 2011)

-bersambung-